Oleh: Carissa Azahra Candraningtyas
Perdebatan mengenai hubungan masih sering menjadi pembahasan publik. Hal tersebut akan terus dibahas dan bahan diskusi, terutama di tengah-tengah arus perkembangan media sosial. Sebab isu tersebut menyentuh hal yang cukup sensitif sekaligus dekat dengan kehidupan sehari-hari setiap orang. Salah satu topik yang menarik untuk dibahas yaitu mengenai perdebatan tentang siapa yang seharusnya membayar saat sedang berkencan.
Sebagian masyarakat masih memandang dan menempatkan laki-laki sebagai pihak yang seyogianya menanggung biaya kencan. Namun, di sisi lain, masih banyak orang yang juga memandang bahwa selama hubungan yang belum terikat secara sah, maka tanggung jawab finansial tidak semestinya dibebankan sepenuhnya kepada pihak laki-laki. Perbedaan sudut pandang pada masyarakat seperti ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara nilai lama dan pola pikir yang lebih setara. Hal tersebut terus berkembang seiring perubahan zaman dan berkembangnya pandangan masyarakat terkait sebuah hubungan.
Apakah Laki-Laki Harus Selalu Dominan dalam Sebuah Hubungan?
Beberapa masyarakat memandang bahwa laki-laki sebagai pihak yang seharusnya lebih dominan dalam sebuah hubungan, terutama karena konstruksi peran sosial yang mengarah pada posisi laki-laki sebagai kepala rumah tangga di masa depan. Peran sosial tersebut yang sering dimaknai sebagai tanggung jawab untuk memimpin, mengambil keputusan, termasuk menjadi penopang utama pada aspek finansial dalam sebuah hubungan. Namun, beberapa pertanyaan pun muncul, apakah dominasi tersebut juga harus diterapkan sejak awal hubungan? Khususnya dalam aspek finansial?
Terlebih, dalam konteks hubungan yang masih berstatus pacaran. Hubungan dengan status pacaran berarti belum tentu berujung pada komitmen yang kekal. Maka, pembagian peran dalam sebuah hubungan sangat layak untuk dipertanyakan dan didiskusikan. Lalu, apakah wajar jika beban finansial langsung dibebankan kepada laki-laki hanya karena konstruksi sosial tersebut? Atau sudah saatnya hubungan dijalani atas dasar kesetaraan, termasuk dalam hal berbagi tanggung jawab ekonomi, tanpa terikat pada stereotipe gender yang cenderung kaku?
Sebuah hubungan tidak selalu diukur dari siapa yang paling sering atau yang paling banyak memberi secara materi, tetapi bagaimana kedua belah pihak di dalamnya mampu saling melengkapi, memahami, dan membagi peran secara seimbang. Nilai dalam sebuah hubungan terletak pada kerja sama dan timbal balik yang didapatkan, bukan pada perhitungan sepihak yang menempatkan salah satu pihak sebagai donatur utama atau yang paling sering memberi.
Meskipun dalam konstruksi sosial laki-laki kerap diproyeksikan sebagai kepala rumah tangga di masa depan, hal tersebut bukan berarti menjadikannya sebagai tonggak utama dalam sebuah hubungan atau yang harus selalu memikul tanggung jawab dalam aspek finansial, terutama dalam konteks hubungan yang masih berada dalam status pacaran.
Label “Tidak Modal” pada Laki-Laki
Di tengah pandangan masyarakat yang masih menempatkan laki-laki sebagai pihak yang seharusnya dominan secara finansial, muncul label yang sering diberikan kepada para laki-laki. Sebutan “tidak modal” diperuntukkan kepada mereka yang belum mampu memenuhi ekspektasi dalam hubungan. Pada dasarnya, seorang yang belum mampu dengan seseorang yang tidak memiliki kemauan sangat jauh berbeda. Laki-laki yang memang belum mampu secara finansial, bukan berarti ia akan abai terhadap pasangannya. Dalam keterbatasan itu, ia akan terus mengusahakan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan dalam hubungan.
Berbeda halnya dengan seseorang yang tidak modal. Seseorang dengan kemampuan finansial di atas pun dapat menjadi “tidak modal” jika ia tidak memiliki keinginan untuk berkontribusi dalam sebuah hubungan. Artinya, persoalan seperti ini bukan semata soal kapasitas finansial, tetapi juga tentang keinginan, tanggung jawab, dan komitmen yang dijaga dalam sebuah hubungan.
Dengan demikian, label “tidak modal” akan tidak adil jika digunakan dengan mengeneralisasi kepada semua laki-laki yang tidak mendominasi secara finansial. Hubungan yang sehat tidak seharusnya dibangun di atas sebuah stigma yang tak berdasar, tetapi pada pemahaman yang lebih bijak terhadap situasi yang sedang dialami dan dihadapi oleh kedua belah pihak dengan perannya masing-masing.
Perbedaan antara laki-laki yang belum mampu secara finansial dan yang kerap dilabeli “tidak modal” sejatinya cukup jelas, meskipun sering kali disalahpahami. Laki-laki yang belum mampu berada dalam situasi keterbatasan, namun tetap menunjukkan itikad untuk berusaha, baik melalui kerja keras, perencanaan, maupun bentuk perhatian lain yang tidak selalu bernilai materi.
Sementara itu, istilah “tidak modal” lebih tepat diarahkan pada seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi memilih untuk tidak berkontribusi atau cenderung mengabaikan tanggung jawab dalam hubungan. Pemahaman atas perbedaan ini penting agar masyarakat tidak gegabah memberikan cap negatif yang justru memperkuat stigma dan mereduksi kompleksitas realitas yang ada.
Meski demikian, penegasan ini bukan berarti menjadi pembenaran bagi laki-laki untuk bersikap pasif atau lepas tangan dalam hubungan. Relasi yang sehat tetap menuntut adanya kontribusi dari kedua belah pihak, baik dalam bentuk materi, waktu, perhatian, maupun dukungan emosional. Dengan kata lain, keterbatasan tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti berupaya, sebagaimana kemampuan pun tidak seharusnya diiringi dengan keengganan untuk berbagi.
Lantas Siapa yang Seharusnya Menjadi Dominan dalam Hubungan?
Dalam konteks hubungan pacaran yang pada dasarnya masih berada pada tahap penjajakan, relasi yang terjalin belum sepenuhnya menuntut komitmen serius seperti dalam pernikahan. Karena itu, dinamika di dalamnya sering kali masih dipengaruhi oleh upaya masing-masing individu untuk saling meyakinkan satu sama lain. Tidak jarang, laki-laki merasa perlu mengambil peran yang lebih dominan sebagai bentuk tanggung jawab atau cara menunjukkan keseriusan. Namun, dominasi tersebut kerap kali diidentikkan dengan kemampuan finansial, seolah-olah nilai seseorang dalam hubungan ditentukan oleh seberapa besar ia mampu memberi secara materi.
Padahal, realitasnya tidak selalu demikian. Ketika kondisi finansial laki-laki belum stabil, penting bagi perempuan untuk memiliki pemahaman yang lebih bijak terhadap situasi tersebut. Selama ada usaha, komitmen, dan itikad baik untuk berkembang, keterbatasan ekonomi seharusnya tidak menjadi tolok ukur utama dalam menilai kualitas hubungan. Relasi yang sehat tidak dibangun dari siapa yang paling banyak memberi secara materi, melainkan dari bagaimana kedua belah pihak saling mendukung dalam proses bertumbuh.
Dengan demikian, pertanyaan tentang siapa yang seharusnya dominan dalam hubungan pacaran menjadi kurang relevan. Hubungan bukanlah arena kompetisi untuk menentukan siapa yang lebih berkuasa atau lebih berperan. Sebaliknya, hubungan ideal justru menempatkan kedua individu sebagai mitra yang setara, yang saling melengkapi, membantu, dan berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing. Memberi dan menerima bukanlah tanggung jawab satu pihak saja, melainkan proses timbal balik yang berjalan seimbang. Di sinilah esensi hubungan yang sehat terbentuk. Artinya, bukan pada dominasi, melainkan pada kerja sama dan saling pengertian.
Pada akhirnya, perdebatan tentang siapa yang harus membayar saat kencan tidak dapat disederhanakan hanya dalam kerangka kewajiban satu pihak berdasarkan gender. Relasi yang sehat justru lahir dari kesadaran bahwa hubungan adalah ruang bersama untuk saling memahami, bukan ajang pembuktian dominasi. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang dapat dinegosiasikan secara terbuka, sesuai dengan kondisi dan kesepakatan yang dibangun bersama. Ketika komunikasi, empati, dan saling menghargai menjadi fondasi utama, maka persoalan “siapa yang membayar” tidak lagi menjadi sumber perdebatan, melainkan bagian dari dinamika yang bisa diselesaikan secara adil. Dengan demikian, mengurai stereotipe gender dalam hubungan bukan hanya tentang mengubah kebiasaan, tetapi juga tentang membangun cara pandang baru yang lebih setara, dewasa, dan manusiawi.
Profil Singkat Penulis
Carissa Azahra Candraningtyas, mahasiswa S1 Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Tinggal di Yogyakarta dan sedang mengamati fenomena yang terjadi pada hubungan di sekitarnya. Topik yang diangkat dari realitas sehari-hari lingkungan tempatnya tinggal.





























Leave a Reply