Literasi Senja, Cirebon-Komunitas Literasi Senja kembali menghadirkan forum pembelajaran dan dialog melalui acara Bedah Naskah Babad Cirebon untuk Literasi Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dengan tema “Merawat Tradisi, Menebar Inspirasi” yang dilangsungkan pada hari Sabtu, 16 Agustus 2016.
Acara tersebut diadakan di Kopi Satu Visi, Kota Cirebon, dan merupakan bagian dari program Literasi Senja Duwe Gawe, yang diselenggarakan dengan kerja sama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (KEMENDIKDASMEN) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Dalam bedah naskah, Farihin Niskala, seorang ahli naskah kuno, menjadi pembicara dan Kamalatan Nihaya bertindak selaku moderator. Beberapa pihak juga hadir, termasuk Bapak Warsita dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cirebon serta Sekretaris Lurah Karya Mulya.
Farihin Niskala menekankan dalam penjelasannya bahwa Babad Cirebon bukan hanya sekadar catatan tentang peristiwa masa lalu. Naskah ini juga merupakan bagian dari warisan literasi yang merefleksikan nilai-nilai, pandangan hidup, kepercayaan, dan budaya masyarakat pada saat itu.
Dari sudut pandang Cirebon, Babad Cirebon memiliki peran penting sebagai salah satu sumber pengetahuan lokal yang merupakan bagian dari akar identitas budaya masyarakat. Keberadaannya menunjukkan bahwa tradisi literasi dan sastra di Cirebon telah ada dan berkembang selama ratusan tahun.
Acara ini juga membahas perjalanan intelektual dan spiritual Sunan Gunung Jati, serta bagaimana masyarakat masa kini dapat melihat kembali warisan sejarah dengan pendekatan yang lebih kritis dan kontekstual.
Farihin menekankan bahwa pemahaman terhadap naskah sejarah tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Setiap informasi yang tersembunyi dalam naskah tersebut perlu dianalisis secara kritis melalui langkah-langkah penelitian sejarah, mulai dari mencari dan mengumpulkan sumber, memverifikasi atau mengkritik sumber untuk menilai kevalidan informasi, hingga melakukan interpretasi sebagai proses mengartikan informasi sebelum diorganisir menjadi narasi sejarah.
Diskusi berlangsung dengan penuh partisipasi. Antusiasme peserta terlihat dari beragam pertanyaan yang muncul selama acara, termasuk tentang keberadaan historiografi yang tidak terlalu terfokus pada istana. Peserta juga membahas Carita Parahyangan yang memberikan perspektif berbeda tentang beberapa tokoh dan pemimpin dalam sejarah.
Bagi Komunitas Literasi Senja, pembahasan naskah kuno tidak hanya sebagai cara untuk menelusuri masa lalu, tetapi juga merupakan bagian dari usaha untuk menghadirkan literasi yang relevan dengan identitas dan kehidupan masyarakat.
Melalui acara ini, diharapkan warisan sejarah dan budaya tidak hanya menjadi arsip masa lalu yang tersimpan dalam tempat tertentu. Sebaliknya, warisan tersebut perlu terus dijalankan dengan cara-cara diskusi, kajian, pembelajaran, dan dialog antargenerasi.
Bedah Naskah Babad Cirebon menjadi salah satu langkah untuk menjadikan literasi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dengan mempelajari kembali warisan intelektual dan budaya daerah, generasi saat ini diharapkan bisa melestarikan tradisi sekaligus menyebarkan inspirasi untuk generasi mendatang.
Penulis: Reni Maulidina
























Leave a Reply