(Puisi) Puisi-Puisi Septian Dewantara

Noken

Kulihat punggung perempuan itu menjuntai seperti sebuah doa yang ditenun dari senyap hutan: serat demi serat adalah urat bumi yang disambung dengan kesabaran, simpul demi simpul adalah nama-nama leluhur yang ditarik dari ingatan angin. Jaring-jaringnya mulut kecil yang memeluk dunia—menampung yang tumbuh dari cahaya redup, menahan duka yang tak sempat diucap, membawa pulang pagi yang tersesat di antara pepohonan. Perempuan itu berjalan, seolah mengerti bahwa hidup memang berat, ia ikat agar tak putus di tengah perjalanan. Kadang aku melihatnya rapuh, tapi dadanya rela menahan semesta; selalu siap diisi sunyi namun diam-diam menyelamatkan hari. Ketika malam turun, digantungnya hasil buruan di dinding honai, ia duduk melamun seperti bulan yang baru saja selesai menampung cahaya.
2025

Honai

Ada sejumput gelap dibulatkan angin, tempat api bernapas seperti bayi lahir yang belum punya nama. Atapnya rendah agar doa tidak tercecer, dindingnya gelap agar cahaya belajar menemukan dirinya sendiri. Manusia kembali menjadi hembusan—hanya detak, hanya hangat, hanya bayangan yang pulang ke tubuhnya. Di luar, hujan menggaruk-garuk malam, semua berkumpul di sudut ruangan, memuja roh yang malu-malu ingin duduk. Kadang terdengar suara tawa, jauh, seakan takut mengganggu arwah yang sedang menenun mimpi. Kadang sunyi terasa lebih tua daripada bumi. Teduhku tidak memagari siapa pun; ia hanya memeluk rahim yang mengerti caranya melepas tanpa kehilangan. Dan ketika fajar menyelinap lewat celah-celah kecil, ia tidak membangunkan siapa pun—ia hanya membuka mata, lalu membiarkan dunia mengingat bentuk rumah untuk pertama kalinya.
2025

Iki Palek (Potong Jari)

Malam yang menelan dirinya sendiri, seorang tetua mengangkat tangan ke udara, dan bayangan pun ikut gemetar. Satu ruas cahaya terlepas dari tubuhnya. Darah yang pernah rintik, erangan suara yang sudah lama mencari pintu untuk pulang. Jari-jari tanah itu menjadi batu kecil yang berduka, mengingatkan dunia bahwa memori kadang harus dilukai agar tetap hidup. Api di sudut ruangan menunduk, seolah takut melihat manusia menjadi lebih jujur dari cahaya. Ada kekosongan yang tumbuh, ada berat yang berpindah, ada doa yang menunggu kulit baru untuk kesembuhan. Potongan yang dipulangkan adalah serpih jiwa yang memilih tinggal di bumi agar duka tidak pecah di dada. Ketika ia menutup mata, malam menjadi lebih dalam, seakan kehilangan bunyi yang begitu pelan namun tetap menggetarkan langit.
2025

Profil Singkat Penulis

Rifqi Septian Dewantara pegiat sastra asal Balikpapan. Karya-karyanya tersebar di berbagai media seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Borobudur Writer & Cultural Festival, Kaltim Post, dan lain-lain. Buku puisinya Aku Tidak Datang dari Masa Depan (Langgam Pustaka, 2025). Bisa disapa melalui Instagram: @rifqiseptiandewantara