Oleh: Vincencia Devita Nugraheni
Di banyak sudut kota, coffee shop kini menjadi ruang yang akrab bagi anak muda. Meja kayu, colokan listrik, koneksi internet lancar, dan tata letak ruangan yang aesthetic menjadi tempat favorit untuk mengerjakan tugas. Di atas meja, sering kita lihat buku terbuka berdampingan dengan secangkir kopi atau matcha. Namun, jika diperhatikan dengan saksama, yang benar-benar aktif justru adalah layar laptop. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan sederhana sekaligus mendasar: apakah membaca masih menjadi aktivitas utama, atau hanya pelengkap dari rutinitas “nugas” yang semakin dominan?
Perubahan ini tidak terjadi tanpa sebab. Coffee shop menawarkan suasana yang berbeda dari perpustakaan. Tempat ini terkesan lebih santai, lebih fleksibel, dan terasa lebih hidup. Banyak anak muda merasa lebih produktif ketika berada di tengah keramaian yang terkontrol. Namun, produktivitas yang lahir dari suasana seperti ini sering bersifat semu. Waktu dihabiskan berjam-jam, tetapi fokus mudah terpecah oleh percakapan, notifikasi, atau sekadar godaan untuk membuka media sosial.
Dalam situasi ini, membaca mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi identik dengan keheningan dan konsentrasi penuh, melainkan harus berbagi ruang dengan berbagai distraksi. Nicolas Carr dalam bukunya yang berjudul The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains menyoroti bahwa manusia semakin sulit mempertahankan fokus dalam jangka panjang. Membaca menjadi aktivitas yang terfragmentasi yaitu berpindah dari suatu teks ke teks lain tanpa benar-benar dapat dipahami. Di coffee shop, kondisi seperti ini semakin dirasakan. Mata mungkin menatap teks, tetapi pikiran dengan mudah melompat ke hal lain.
Lebih jauh lagi, kehadiran media sosial turut mengubah cara kita memaknai aktivitas membaca. Buku yang terbuka di atas meja tidak sekadar sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai simbol. Buku menjadi bagian dari citra diri yang ingin ditampilkan seperti: terlihat intelektual, santai, dan produktif. Jean Baudrillard menyebut fenomena semacam ini sebagai sebuah simulasi, yakni ketika tanda dan tampilan lebih dominan daripada realitas itu sendiri. Membaca, dalam konteks ini, berisiko menjadi aktivitas yang dilakukan supaya terlihat, bukan untuk dipahami.
Fenomena ini tampak jelas dalam keseharian. Banyak anak muda datang ke coffee shop dengan membawa buku, tapi yang dibuka justru laptop. Membuka file, mengerjakan tugas, dan notifikasi yang tidak pernah diam. Buku tetap ada di meja, tetapi tidak benar-benar disentuh. Bahkan ketika buku dibuka, sering kali hanya dibaca sekilas sebelum perhatian kembali ke layar. Ini bukan sekadar pergeseran medium dari kertas ke digital, tetapi perubahan orientasi. Membaca sebagai proses memahami perlahan bergeser oleh kebutuhan menyelesaikan pekerjaan secara cepat.
Di sisi lain, coffee shop juga menciptakan semacam ilusi produktivitas. Seorang filsuf asal Korea Selatan, Byung-Chul Han, menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup dalam tekanan untuk terus terlihat produktif. Kita terdorong untuk selalu melakukan sesuatu, mengisi waktu, dan menunjukkan aktivitas. Dalam hal ini, nugas di coffee shop menjadi bagian dari performa tersebut. Duduk berjam-jam di depan laptop memberikan kesan produktif, meskipun tidak dengan kedalaman kerja atau pemahaman terhadap hal yang dikerjakan.
Namun, tidak semua kegiatan membaca di coffe shop dapat dianggap dangkal. Bagi sebagian orang, suasana yang santai justru membantu mereka lebih menikmati bacaan. Mereka merasa lebih konsentrasi di tengah keramaian ringan dibandingkan dalam keheningan total. Aroma kopi yang diseduh juga menimbulkan efek relaksasi membuat suasana membaca lebih nyaman. Italo Calvino dalam novelnya yang berjudul If on a Winter’s Night a Traveler pernah menyinggung bahwa setiap pembaca memiliki cara dan ruangnya sendiri dalam berinteraksi dengan teks. Artinya, coffee shop tetap memiliki potensi sebagai ruang literasi, meskipun bukan bentuk yang ideal.
Dalam hal ini, yang menjadi persoalan bukanlah tempatnya, melainkan bagaimana aktivitas membaca itu dijalankan. Membaca bukan sekadar membuka buku atau menatap layar. Membaca adalah proses memahami, mengolah, dan merefleksikan. Ketika proses ini hilang, membaca berubah menjadi aktivitas yang kosong. Hadir secara fisik, tetapi tidak meninggalkan jejak dalam pikiran pembaca.
Fenomena membaca di coffee shop mencerminkan dilema yang lebih luas tentang literasi di era modern. Di satu sisi, kita memiliki akses lebih besar terhadap berbagai teks dan informasi. Di sisi lainnya, kemampuan untuk memahami secara mendalam justru semakin tergerus. Kita membaca lebih banyak, tetapi belum tentu memahami keseluruhan isi bacaannya. Kita dapat membuka lebih banyak halaman, tetapi tidak selalu menyelami isinya.
Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada kesadaran tiap individu. Membaca bukan soal tempat, melainkan soal keterlibatan dalam memahami isi bacaan. Kita bisa membaca di mana saja, di coffee shop, di kamar, di perpustakaan, atau tempat yang membuat kita nyaman. Namun, tanpa kesadaran untuk benar-benar memahami, membaca hanya menjadi rutinitas yang dangkal. Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi di mana kita membaca, melainkan untuk apa kita membaca.
Profil Singkat Penulis
Vincencia Devita Nugraheni, mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma. Ia tertarik pada dinamika bahasa, budaya, dan kebiasaan membaca di era digital. Tulisan yang ia hasilkan diangkat dari hasil mengamati realitas di sekitarnya.





























Leave a Reply