Toxic Positivity: Ketika ‘Tetap Semangat’ Justru Berbahaya

Oleh: Rohayati

Di era modern, kita sering mendengar ungkapan seperti “Tetap semangat!”, “Jangan menyerah!”, atau “Lihat sisi positifnya saja!”. Kalimat-kalimat ini tampaknya memberikan dorongan motivasi, tetapi tanpa disadari, bisa menjadi bentuk toxic positivity. Alih-alih membantu, sikap ini justru bisa membuat seseorang merasa tertekan dan tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan emosi negatif mereka.

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah sikap yang terlalu menekankan aspek positif dalam segala situasi, tanpa mengakui atau memberikan ruang bagi emosi negatif yang alami. Ini menciptakan ekspektasi bahwa seseorang harus selalu bahagia dan optimis, bahkan dalam situasi sulit.

Beberapa contoh toxic positivity dalam kehidupan sehari-hari:

  • Seseorang yang mengalami kesedihan atau kegagalan diberi saran “Jangan sedih, semua akan baik-baik saja.”
  • Mengabaikan masalah dengan alasan “Kamu harus bersyukur, banyak orang yang lebih menderita.”
  • Memaksa seseorang untuk selalu tersenyum dan mengabaikan perasaan cemas atau marah yang mereka alami.

Mengapa Toxic Positivity Berbahaya?

Meskipun niatnya baik, toxic positivity bisa berdampak negatif pada kesehatan mental seseorang. Berikut beberapa dampaknya:

  1. Menekan Emosi yang Sehat

Mengabaikan perasaan negatif dapat menyebabkan akumulasi emosi yang tidak terselesaikan, yang pada akhirnya bisa memicu stres dan kecemasan berlebih.

  1. Menghambat Proses Penyembuhan

Orang yang mengalami trauma atau kesedihan butuh waktu untuk menerima dan memproses emosinya. Sikap terlalu positif bisa membuat mereka merasa bersalah karena tidak bisa segera “move on”.

  1. Menciptakan Tekanan Sosial

Ketika seseorang dipaksa untuk selalu terlihat bahagia, mereka bisa merasa terisolasi dan tidak punya tempat untuk berbagi kesulitan mereka.

  1. Mengurangi Empati dan Dukungan

Respon seperti “Jangan pikirkan itu, tetap positif!” bisa membuat seseorang merasa diabaikan dan tidak mendapatkan dukungan yang sebenarnya mereka butuhkan.

Bagaimana Menghindari Toxic Positivity?

Agar tidak terjebak dalam toxic positivity, kita bisa melakukan beberapa hal berikut:

  1. Berikan Ruang untuk Emosi Negatif

Akui bahwa tidak apa-apa merasa sedih, marah, atau kecewa. Emosi negatif adalah bagian alami dari kehidupan manusia.

  1. Dukung Tanpa Meremehkan Perasaan

Daripada mengatakan “Jangan sedih, ini cuma masalah kecil”, cobalah mengatakan “Aku mengerti kalau ini sulit bagimu. Aku di sini kalau kamu butuh bicara.”

  1. Gunakan Pendekatan Seimbang

Alih-alih memaksakan kebahagiaan, bantu seseorang menemukan cara untuk menghadapi emosinya dengan sehat, seperti dengan berbicara atau menulis jurnal.

  1. Terima Bahwa Hidup Tidak Selalu Mudah

Tidak ada salahnya mengalami hari yang buruk. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola emosi tersebut dengan cara yang sehat.

Positivitas memang penting, tetapi jika berlebihan, justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental seseorang. Daripada memaksakan kebahagiaan, lebih baik kita belajar untuk menerima segala emosi dengan seimbang. Hidup bukan hanya tentang senyum dan tawa, tetapi juga tentang memahami dan merangkul setiap perasaan yang ada.