(Puisi) Memori yang Menghantui, Ilusi Cinta

Memori yang Menghantui

Oleh: Faradisa Ramadani Putri

Hai, apa kabar dengan dirimu?
Semoga bahagia, meski tanpaku.
Terima kasih atas lentera yang dulu kau beri,
Saat gelap membutakan hati ini, bagai labirin tanpa jalan keluar.
Tanpa cahayamu, aku hilang dalam realita kejam, terombang-ambing di lautan nestapa.

Maafkan semua salahku, luka yang kubuat, bagai duri yang menusuk kalbu.
Lupakan kata-kata yang pernah terucap, bagai angin yang berlalu.
Kini kita terpisah, jalan kita berbeda, bagai dua sungai yang tak pernah bertemu.
Tak mungkin lagi terbang bersama menuju baskara, hanya mimpi di tengah malam.

Ingatkah kau buku itu?
Kini hanya debu yang tersisa, bagai kenangan yang memudar.
Petunjuk jalan telah sirna, ditelan kegelapan.
Kebenaran dan keselamatan hanyalah ilusi semata, fatamorgana di padang pasir.

Mungkin ini dialog terakhir kita,
Epilog yang penuh air mata, bagai hujan yang tak kunjung reda.
Do’a ku tak lagi berarti, bagai bisikan di tengah badai.
Bahagiamu adalah mimpi yang tak mungkin kuraih, bintang yang terlalu jauh untuk digapai.
Biarlah memori ini menjadi pelajaran abadi, meski menghantui, bagai bayangan yang tak pernah hilang.

Ilusi Cinta

Oleh: Faradisa Ramadani Putri

Waktu berlalu, bait demi bait tercipta,
Namun kalbuku terhias sendu dan nestapa.
Angin berhembus, membawa rindu yang membara,
Kisah kelam terukir, bagai senja yang memudar warna.

Cinta hadir, bagai oase di gurun jiwa,
Sehangat mentari, membangkitkan dari mimpi kelam.
Namun senja tiba, mentari pun beranjak pergi,
Cahaya redup, menyelimuti tubuh ini, bagai malam tanpa bintang.

Jika tak ada dermaga, lebih baik berlayar,
Kenangan pahit, biarlah terkubur dalam dasar samudra.
Kembali tanpa arah, bagai jiwa yang hilang di hutan belantara,
Bersaksi bahwa cinta tak selalu berujung kebahagiaan, hanya ilusi semata.

Kata-kata terucap, namun tak semudah terwujud,
Kini angin membawa asa ke negeri impian.
Di sana, kutemukan bidadari pujaan,
Cintanya abadi, bagai pelita di tengah badai kehidupan.