Oleh: GiaWrites
Tawanan sesak berirama.
Melantunkan lara.
Sepertiga malam,
membelai sendu.
Perih hendak bermadah.
Lemah,
tetap enggan menyerah.
Masih saja menyoal kasih.
Percuma dirajam pedih.
Lirih seketika berbisik:
“Tak apa,
jika hanya menanggalkan doa.”
Nelangsa,
Aku luruh dalam nestapa.
Bagai penyair, ditinggalkan sajaknya.
Bagai jiwa, ditinggalkan hatinya.
Baiklah,
Biarlah diakhiri.
Biarlah semesta menjaga,
dari rasa yang tak kau pinta.
Selamat, kepada Kemanusiaan
Kehancuran tak perlu dihantam oleh badai.
Ia bukan malapetaka alam.
Melainkan, cukup diukir oleh kehendak sadar.
Oleh suatu makhluk, bernama manusia.
Katanya meniti peradaban.
Namun di balik dinding sekolah, kantor, gawai, hingga mimbar kekuasaan,
tetap ada porsi kebiadaban.
Ada wanita yang tengah dihancurkan tanpa sadar.
Mereka dibuat sibuk pada penampilan, ketimbang pemikiran.
Mereka kehilangan tempat tinggal, penerimaan, dan rasa aman.
Adapun lelaki, lelaki bertopeng kuda.
Mereka diperas, dengan dalih kerja keras.
Dipaksa bungkam, saat jiwanya membutuhkan peluk kelemahan.
Sistem kemanusiaan lahirkan kecacatan.
Manusia dibidik untuk memuja kekuasaan, ketidaksetaraan, penampilan, hingga perpecahan.
Tapi Hey, jangan merasa si paling korban.
Sebab setiap jiwa, pernah mengancurkan kemanusiaan.
Tatkala memilih diam terhadap luka.
Tatkala menimpali kisah dengan antipati.
Tatkala memilih bungkam, saat kebenaran dikebiri normalisasi.
Dan tatkala mempersembahkan kekuasaan kepada setan.
Manusia yang katanya paling berakal.
Kini telah belajar membunuh, tanpa sadar.
Manusia turut hancur lebur,
oleh sistem yang dibuatnya sendiri.
Sungguh, ironis.
Manusia, lihatlah lekat-lekat.
Inilah akibat dari membandrol mahal tarif kebaikan.
Memviralkan, ‘transaksi’ kebaikan.
Hingga jiwa-jiwa, banyak mendamba balasan.
Enggan merawat ketulusan.
Menggelorakan ketakutan.
Mengasingkan tugas paling dasar kemanusiaan.
Selamat, kepada kemanusiaan.
Kecacatan sistemmu, berhasil mencabik-cabik golonganmu sendiri.






















Leave a Reply