Keluhuran dalam Cerpen Staccato Karya Djenar Maesa Ayu

Oleh: Yusbhi Kris Sayputra

Membaca cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu dalam buku Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) membuat saya berpikir, sebenarnya apa yang ditawarkan penulis lewat cerpen-cerpennya? Agaknya, tema semua cerpen dalam buku tersebut terkesan kontroversial di kepala saya. Kemudian, saya mencoba membaca salah satu cerpen Djenar Maesa Ayu dalam buku Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) yaitu Staccato melalui perspektif keluhuran untuk mendapatkan pemahaman yang berbeda.

Menurut keyakinan saya, cerpen Staccato tersebut merupakan cerpen eksperimental Djenar Maesa Ayu karena memiliki bentuk yang unik. Sepanjang cerpen, Djenar Maesa Ayu menggunakan kalimat-kalimat pendek, bahkan sebagian kalimat dalam isi hanya berisi satu kata saja. Selain itu, tidak sedikit pula Djenar Maesa Ayu menggunakan kata-kata bernuansa vulgar. Taruhlah kata-kata seperti birahi, kelamin, disetubuhi, ciuman, ereksi, dan lain sebagainya. Hal tersebut membuat saya berpikir, sepertinya Djenar Maesa Ayu terlalu blak-blakan dalam cerpennya ini.

Dalam memahami cerpen Staccato melalui perspektif keluhuran, kita tengok konsep keluhuran menurut Longinus, seorang negarawan dan ahli kritik sastra yang hidup pada abad ke-3 Masehi. Bagi Longinus, tidak ada sastra tanpa transformasi. Sebuah karya menjadi hebat jika dia memiliki kekuatan membawa pembaca ke hal yang luhur. Keluhuran atau sublimasi sejati selalu menyenangkan dan membawa suka cita untuk pembaca tanpa mengenal perbedaan usia, ras, ideologi, agama, dan bahasa.

Ada lima prinsip sumber keluhuran pengarang, yaitu (1) daya wawasan yang agung, (2) emosi atau nafsu yang mulia, (3) retorika yang unggul, (4) pengungkapan yang berkelas (diksi dan metafora), dan (5) penggubahan yang mulia. Berdasarkan hal tersebut, saya memperoleh konsep keluhuran dalam cerpen Staccato sebagai berikut.

Membaca Keluhuran dari Motivasi Tokoh “Saya”

Dalam cerpen Staccato tersebut, tokoh “Saya” digambarkan sebagai seorang istri yang tidak memiliki kehidupan rumah tangga yang harmonis. Dalam artian, suami tokoh “Saya” tersebut tidak cukup memberinya kebahagiaan seperti para istri di luar sana. Oleh karena itu, tokoh “Saya” kerap mencari sesuatu yang dia sebut sebagai “kebahagiaan” melalui orang lain atau laki-laki lain.

Bagi sebagian pembaca yang mungkin hanya membaca sekali atau dua kali, mereka akan menganggap bahwa Djenar Maesa Ayu hanya mengangkat tema seorang istri yang gemar selingkuh dengan lelaki lain. Tetapi, melalui perspektif keluhuran Longinus, saya melihat adanya motivasi yang berbeda dari tokoh “Saya” tersebut. Motivasi yang saya maksud berkaitan dengan hak manusia untuk mendapatkan kebahagiaan atas dirinya sendiri.

Jika mengambil sudut pandang tokoh “Saya”, ia tidak benar-benar melakukan kesalahan. Ia hanya ingin bahagia atas hidupnya sendiri. Walaupun memang betul, ia dinyatakan melakukan perselingkuhan, yaitu bersetubuh dengan lelaki yang bukan suaminya. Tetapi, hal tersebut dilatarbelakangi oleh sikap suami yang tidak bersikap layaknya suami pada umumnya. Malahan, suami tokoh “Saya” tidak merasakan birahi ketika tokoh “Saya” mencoba memancingnya untuk bersetubuh.

Melalui pemikiran Longinus, saya menangkap salah satu prinsip sumber keluhuran dalam cerpen tersebut, yaitu daya wawasan yang agung, di mana seorang sastrawan harus bebas dari pikiran-pikiran yang rendah. Sebaliknya, pikiran-pikiran besar muncul dari jiwa yang besar. Berdasarkan hal tersebut, saya menangkap Djenar Maesa Ayu bersedia dan berjiwa besar merendahkan sosok istri atau wanita sebagai tukang selingkuh dalam cerpen tersebut untuk memunculkan suatu keluhuran, yaitu para wanita atau istri juga berhak mendapatkan kebahagiaan atas hidupnya sendiri. Ya, jika pasangannya tidak memberinya kebahagiaan, bukankah para wanita atau istri punya hak untuk mencari kebahagiaannya sendiri?

Kejujuran Bahasa Djenar Maesa Ayu

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, cerpen Staccato ini memuat kalimat-kalimat super pendek. Bahkan sebagian kalimatnya hanya memuat satu atau dua kata saja. Hal tersebut tentu menjadikan cerpen ini sebagai cerpen yang tidak umum dan eksperimental dari Djenar Maesa Ayu. Tetapi, tentu saja tanpa mengurangi intensitas ceritanya.

Cara Djenar Maesa Ayu menuliskan cerpen tersebut sesuai dengan konsep prinsip sumber keluhuran, yaitu retorika yang unggul. Dalam hal ini, pembaca mendapat informasi baru terkait gaya bahasa yang bisa digunakan dalam menulis cerpen. Misalnya dalam kutipan berikut ini.

Pagi. Rokok. Kopi. Gosok gigi. Mandi. Apa lagi? Pagi. Rokok. Kopi. Tidak gosok gigi. Tidak mandi. Tidur lagi. Hmmm… normal sekali. (Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), hlm. 63)

Dalam kutipan cerpen tersebut, Djenar Maesa Ayu tentu ingin menggambarkan aktivitas seorang pekerja kantoran saat hari libur. Tidak ada kalimat panjang. Tidak ada narasi berbelit. Hanya diksi sederhana, tetapi mengandung alur peristiwa yang jelas dan bisa dibayangkan oleh pembaca.

Selain bentuk cerpen yang unik, Staccato juga mengandung kejujuran dari Djenar Maesa Ayu. Hal tersebut tampak dalam pemilihan diksi yang (mungkin) terkesan vulgar dan tidak senonoh. Tetapi, saya melihat adanya keberanian Djenar Maesa Ayu dalam berkarya. Ia tidak memedulikan batas-batas atau norma-norma yang kerap membatasi penulis untuk berkarya. Ia membebaskan pikirannya untuk memunculkan diksi-diksi ajaib yang (mungkin) akan dihindari oleh penulis lain dalam karya-karyanya.

Saya membayangkan ada banyak sekali cibiran dan ketidaksukaan dari berbagai pihak ketika Djenar Maesa Ayu membuat cerpen Staccato ini pada 2003. Tetapi, dengan diterbitkannya cerpen ini dalam buku Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), tentu saja ada pihak-pihak yang melihat cerpen tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin saja, mereka dapat mencermati keluhuran dari diksi-diksi yang dicetuskan Djenar Maesa Ayu melalui karya-karyanya.

Sebagai penutup, melalui cerpen ini, Djenar Maesa Ayu mengajak pembaca menilik kembali tentang hak manusia dalam memperjuangkan kehabagiaan atas hidupnya sendiri. Setiap manusia mempunyai pilihan untuk mengambil apa yang seharusnya mereka dapatkan berdasarkan apa yang mereka telah korbankan. Hidup dan kebahagiaan, tentu saja menjadi tujuan dan harapan setiap manusia di dunia. Djenar Maesa Ayu, sekali lagi, menunjukkan kejujuran dalam berkarya.

Yusbhi Kris Sayputra, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.