Fokus Pada Arah, Bukan Masalah: Refleksi Stoikisme di Tengah Budaya Instan Generasi Z

Oleh: Aminah Amna

Dewasa ini, aktif menunjukkan segala bentuk ekspresi di era yang semakin berkembang tentu banyak sekali tantangannya. Salah satunya ialah budaya instan yang melekat pada zaman sekarang. Kemudahan tekonologi dapat memanjakan manusia dalam aktivitas keseharian. Tidak perlu ribet mencari kebutuhan atau bahkan memenuhi keinginan, semuanya bisa dengan mudah dicapai. Generasi Z yang lahir beriringan dengan perkembangan teknologi menjadi sangat krusial. Mereka disuguhkan dengan berbagai pilihan yang menggiurkan. Jati dirinya akan goyah jika tidak memiliki kekuatan, kendalinya akan hilang jika tidak ada arah.

Dalam konsep dikotomi kendali yang dikemukakan oleh penulis novel Filosofi Teras, yaitu Henry Manampiring, beliau manyatakan bahwa dalam hidup ada hal-hal di luar kendali yang perlu diterima dan hanya sedikit yang benar-benar bisa kita atur. Hal tersebut, mengajarkan bahwa alokasi yang bisa dilakukan oleh manusia ialah memfokuskan dirinya pada setiap jalan menuju arah, bukan masalah. Jika dibedah lebih dalam, mengapa di luaran sana banyak sekali yang merasa stres akibat menghadapi permasalahan yang bertubi? Padahal bisa jadi jawabannya bersumber dari dalam dirinya sendiri. Karena sumber stres datang dari ilusi, bahwa kita punya kendali penuh atas hidup. Banyak sebagian dari mereka terlalu berambisi dalam menata kehidupan, sehingga hal tersebut rentan sekali menimbulkan ketimpangan antara realitas dan ekspetasi yang sudah di bangun.

Stoikisme mengingatkan kendali manusia selalu terbatas, tak pernah 100 persen. Dalam setiap perjalanan, selalu sisakan ruang agar di dalamnya ada semesta yang berbicara. Begitu pun dengan konsep kekuasaan yang datang dari Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha biarkan takdir yang menentukan. Namun, bukan berarti setiap masalah dijadikan kambing hitam sehingga tidak ada ruang untuk berekspresi. Di sinilah pentingnya membangun mindset dalam memandang masalah. Sebab hal tersebut berpengaruh terhadap cara kita menata arah.

Sesederhana kita dalam memandang masalah hidup, misal berusaha mengejar PTN impian namun hasilnya malah keterima di PTN yang bukan impian. Jika berlarut dalam menyesali keadaan tersebut akan berpengaruh dalam keseharian. Kuliah menjadi tidak bersemangat dan selalu berandai-andai diterima di PTN impian. Hal tersebut sangat merugikan diri kita, padahal di saat yang bersamaan kita bisa melalukan ikhtiar lain dengan menerima takdir-Nya. Lalu memaksimalkan apa yang sudah Tuhan berikan dengan aktif di berbagai kegiatan. Mencari-cari pengalaman baru, mencoba untuk bangkit dari zona nyaman serta kegiatan lainnya yang hal tersebut merupakan arah. Dari hal tersebut, yang menjadi senternya adalah PTN hanya stasiun, bukan tujuan akhir, kereta kehidupan masih akan berjalan jauh.

Melihat kisah munculnya konsep Stoikisme justru karena bersumber dari musibah yang dialami oleh seorang Filsuf, yaitu Zeno of Citium. “Perjalanan yang paling membawa kemakmuran justru dimulai saat kapal Zeno karam” dari situlah filsafat Stoikisme lahir.

Ada dua pandangan dalam memahami konsep masalah. Pertama, buruk sehingga keburukan tersebutlah yang berbicara. Kedua, baik sehingga kebaikan tersebutlah yang berbicara. Pun dalam keseharian kita memamdang konsep kehidupan. Terkadang memang terlalu larut sehingga merasa paling tersakiti dan tidak adil. Tapi nyatanya ada kejutan yang luar biasa di balik permasalahan yang ada. Dan semua itu tergantung manusia dalam mengendalikan roda kehidupan, kuncinya adalah ambisi disertai antisipasi.

Daftar Pustaka: Manampiring H (2018) Filosofi Teras: Jakarta. Kompas.