Tabik!
Pada edisi “Dari Redaksi” ini, kami hendak memprovokasi keminatan, atau jika boleh lebih kasar mempertanyakan posisi Anda (wahai khalayak budiman) yang meyakini bahwa “Menulis itu Penting”. Kalimat pertama dalam seksi ini tidak berlaku sebagai prolog. Ia lebih menjadi cambuk buntut pari yang dihantamkan ke hadapan muka. Tidak hanya sebatas membekaskan merah lebam, tapi juga gatal yang menyiksa di wajah, yang jika terus diacuhkan bisa saja berujung borok.
Ya, kami mempertanyakan ke mana geliat menulis dan mengirimkan tulisan hai wahai khalayak?! Jangan biarkan terlalu lama pemikiranmu hanya sebatas pemikiran, draft naskah tak beranjak di folder penyimpanan. Sungguh sepi-sunyi lelaku bidang ini (menerima tulisan) pada kami. Semoga bencana ini hanya terjadi hanya sementara, pada kami, tidak seterusnya, tidak di tempat-tempat lainnya. Sungguh kami harapkan medan laga ini dihidupkan semenyenangkan mungkin; medan juang yang dihidupi khalayak pembaca sekalian. Ketika kami mempertanyakannya dengan seprovokatif ini, sejatinya adalah usaha menghadapkan kami pada sebidang cermin: belum efektifkah cara kami?
Semenjak media kirim-mengirim, tulis-menulis, baca-membaca, tanggap-menanggap Website Literasi Senja ini mengudara dan beredar dalam semesta digital, kami menyimpan ekspetasi setinggi menara gading bahwa makhluk penyimpan pemikiran/gagasan/ide ini akan lahap dicecap khalayak. Pada mulanya memang ramai-riang, mestilah sesekali kami terapkan standar otoritatif: semacam menolak-nolak naskah demi standar kualitas terbit. Namun demikian geliat itu pudar-memudar. Ah, barangkali sekali lagi: memang mungkin strategi kamilah yang belum cukup manjur.
Maka sambil melakoni lelaku ini, kami terus mengupayakan semacam menyemarakkan strategi lainnya untuk terus menarik minat khalayak, agar kelak dengan bangga dapat mengirimkan tulisannya. Pertama-tama, akan kami perindah cara publikasi hasil tulisan menjadi lebih eye catching. Termasuk meminta-minta tulisan, mengetuknya sampai ke hadapan muka-muka khalayak sekalian. Seperti serangan fajar yang datang tatkala Subuh sebelum pemilihan pejabat dilakukan, sampai mau juga khalayak mengiyakannya.
Bila kami yakini Literasi sebagai usaha terus-menerus yang pasti tak instan, maka kami akan terus lentingkan upaya-upaya itu berkali-kali dengan tabah. Baik, akan kami terus lakukan. Tak menyerah barang sebentar. Tak mundur barang selangkah.
Khalayak, kami tunggu tulisan-tulisanmu!






















Leave a Reply