(Cerpen) Senyum dalam Topeng

Oleh: Maryatul Kuptiah

JARUM jam berhenti tepat pada angka 03.04 sebuah ruang petak. Hampir tak ada kehidupan, senyap dan sunyi berkelahi dengan kerasnya kegelapan. Terdengar sebuah keraguan atas pernyataan yang tak punya jawaban. Kedua sisi dinding bungkam, tak berani bergumam. Diam. Yang ada, hanya seorang laki-laki dewasa berkecamuk dengan sumpek yang penuh siksaan selayaknya penjara.

Tapi nyatanya, ruangan yang disebut kamar begitu tertata rapi. Bahkan secuil debu pun tak tersentuh. Bagaimana tidak, laki-laki dewasa yang akrab disapa Tio itu sangat mencintai kebersihan. Ia tak bisa melihat kamarnya berdebu, ia membencinya. Tio lebih senang hidup sendiri, di rumahnya hanya tinggal ia dan saudara laki-laki kembarannya, Dio. Tapi meskipun demikian, Dio sangat dikenal ramah oleh tetangga sekitarnya. Namun, tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa Dio mempunyai kembaran. Tio tersembunyi dalam diri Dio─tak ada siapa pun pun yang menyadarinya.

Anehnya, Tio tidak pernah tidur di atas kasur merah persegi panjang bernuansa glamor itu. Ia tidak ingin menyentuhnya. Sebab takut menjadikannya kotor. Jangankan kasur, benda-benda yang ada di kamarnya, termasuk perabotan yang mengisi rumahnya pun tak pernah disentuhnya. Hanya Dio yang rajin membersihkan rumah peninggalan warisan kedua orang tuanya itu. Tidak hanya itu, Tio hanya ingin mengenakan satu baju kaus hitam dan celana hitam panjangnya. Sementara untuk tidur pun hanya sekadar membentangkan tikar kecil berbahan daun lontar. Itu pun bentuknya sudah tak karuan, berkecai-kecai seperti daun kucai.

Di sampingnya, selalu menempel kembarannya yang berambut dan baju warna-warni, corak polkadot dengan warna acak. Menjadi teman setia Tio di kala malam menjemputnya. Tio selalu merawat Dio, mereka hampir tidak pernah berpisah barang sedetik pun. Tio selalu menjaga Dio yang dianggapnya makhluk bernyawa. Namun, meskipun mereka kembar, tetap saja mereka memiliki kepribadian yang amat jauh berbeda. Sebenarnya jiwa Tio sudah lama melayang, sementara Dio lahir semenjak peristiwa tiga detik itu. Tepatnya, ketika Tio sudah lagi tidak bercanda dengan dunia. Dan Dio menggantikan posisinya di hadapan dunia. Sementara Dio, raganya sudah lama mati, kini hanya jiwanya yang hidup.

Pada saat Tio harus kembali menelan luka, Dio selalu datang sebagai pelipur laranya. Saat bersamanya, Tio merasa lupa akan siapa dirinya. Seringkali Tio mengajak Dio berbincang soal apa pun, menyuapi Dio makan, memakaikannya pakaian, dan memandikannya. Tio tak pernah berbicara kepada siapa pun, kecuali kepada kembarannya itu.

PADA sebuah ruangan petak dua. Tio terbangun dengan posisi duduk. Melihat sekeliling ke arah dinding dan perlahan penglihatannya merayap pada sebuah jam yang telah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Sontak, Tio meraih tangannya untuk mendekap Dio. Dalam pelukannya kemudian Tio termenung. Ia sangat mencintai Dio. Ia tak ingin kehilangannya untuk yang keduanya. Cukup satu kehidupan yang menghilang.

“Maafin aku yang terpaksa menjualmu untuk menutup aku, Dio.” Dengan tatapan sendu.

Lagi-lagi Dio hanya membalasnya dengan senyuman.

“Dan… aku tidak akan membiarkan siapa pun mengetahui keadaan kita yang sebenarnya, AKU JANJI DIO!” Sambil menautkan jari kelingking.

Tak lama kemudian Tio terlelap kembali. Kali ini ia bermimpi. Tio bermimpi tentang apa yang terjadi tiga tahun yang lalu. Terekam jelas bagaimana di mimpi itu ada dirinya, Dio, dan seorang badut. Badut itu kemudian menghampirinya.

“Kau harus menjaganya!” seraya mengarahkan telunjuknya kepada Dio. Tio pun menoleh ke arah kebelakang.

“Ya, kau harus menjaganya sebaik mungkin. Karena hanya ia yang bisa menutup semua tentang dirimu. Orang-orang akan mengenalmu sebagai dirinya. Dia adalah tangan kanan dirimu. Semua orang akan mengenalmu sebagai Dio yang memperlihatkan wajah putih dengan bulatan merah di kedua pipi dan hidungmu, yang menggerakkan tubuhnya dengan aktif ke segala sisi. Dan berdiri tegak tepat di persimpangan jalan, di perempatan jalan, atau di tengah jalan. Sambil bernyanyi lagu yang membuat semua orang tertawa bahagia. itu menjadi tugasmu. Jangan pernah menjadi dirimu di depan semua orang.”

Tiba-tiba Tio terbangun dari tidurnya. Untuk kedua kalinya ia disiksa oleh mimpi. Setelah itu, ia tak lagi bisa memejamkan matanya. Karena setiap kali matanya terpejam, hanya ada bayangan seorang badut. Sebab itu, saat ia membuka matanya, ia tak mau menutup matanya kembali. Malam adalah petaka bagi Tio. Ketika ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia sudah melepaskan dirinya pergi untuk selama-lamanya. Ikut bersama kejadian tiga detik itu. Tio tak memiliki tugas lain selain menunggu fajar menyingsing, dengan membawa cahaya baru. Dan memberinya kembali kehidupan baru. Ia merasa bahwa dirinya dan Dio hidup kembali bersamaan dengan sinar matahari. Bangkit dari kematian. Lantas, ia harus memutuskan hidupnya pergi ketika matahari meninggalkan bumi dan menukar bulan di sisinya.

Dio berangkat kerja dengan langkah kaki menekuk dan leher yang sedikit dimiringkan. Tentu saja dengan tubuh yang sudah dibungkus dengan baju miliknya. Tio juga ikut, tetapi tidak menunjukkan kehadirannya di banyak orang. Hanya Dio yang memahami dan mengerti. Berjalan setapak, Dio sudah disapa banyak orang di sekelilingnya. Tak jarang Dio membawa pulang banyak makanan setelah bekerja untuk menghibur acara-acara anak-anak. Dio tak pernah mematok harga khusus untuk pelanggannya, diberi baginya rezeki. Jika tidak pun, cukup dengan senyuman yang terpancar di wajah orang lain sudah menjadi bayaran berharga baginya. Ia tidak ingin seorang pun mengetahui luka yang disimpannya untuk Tio. Agar semua orang tidak pernah merasakan apa yang Tio rasakan. Cukup ia yang menyaksikan bagaimana hancurnya Tio. Ia tak akan membiarkan orang lain ikut merasakan kehancurannya.

Setiap hari Dio selalu berada dalam keramaian. Namun ia tak memedulikan suara berisik hiruk pikuk kota yang sibuk. Baginya, kota hanyalah tipuan. Di mana isinya hanya orang-orang tak punya waktu untuk menghibur diri mereka sendiri.

Matanya meraba setiap sudut sekelilingnya, merasa bahwa ia harus membuat siapa pun tertawa. Karena dengan itu, Tio juga akan ikut tertawa. Sementara setelah surup tiba. Ia harus berlari kencang sebelum malam semakin tiba. Kurang lebih empat puluh tahun ia melakukannya. Berdiri tegak di persimpangan jalan, di perempatan jalan, dan saat lampu merah. Hanya untuk membahagiakan saudaranya. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada.

SIANG hari adalah waktu untuk mengembalikan senyuman di wajahmu,” ucapnya lirih.

Ketika asyik berbicara dengan dengan Tio, tanpa sengaja Dio menabrak seorang wanita. Ia tak sempat melihat wajahnya, seolah tak melakukan kesalahan wanita itu bergegas pergi. Ia tidak pernah marah dengan siapa pun, hanya sedikit heran. Sambil bergumam.

“Hmm… Kok masih ada ya orang seperti itu di atas muka bumi ini,” tanyanya heran.

“Sudahlah, lebih baik aku melanjutkan tugasku,” lanjutnya tersenyum.

Hari semakin terik, matahari tepat di tengah kepala. Namun tak melunturkan semangat Dio di perempatan jalan dengan sebuah kotak yang dipegangnya. Sambil menyeka keringat yang bercucuran, tiba-tiba ada yang menyodorkan sebuah minuman bewarna di hadapannya.

“Ini untumu, pasti kamu haus kan? Ini ayo minum.”

Dio tak membalas, seperti biasa ia hanya diam.

“Ambillah, anggap saja aku temanmu. Atau seseorang yang bertemu denganmu tanpa sengaja,” ucapnya.

“Kenalin aku Loli.” Seraya menyodorkan tangannya.

“Aku tahu dan aku mengenalmu. Namamu Dio kan? Ayo duduk di kursi itu,” ajaknya sambil menarik kursi itu.

“Istirahatlah dulu, ini minumanmu. Kau tidak usah ragu. Aku memberimu ikhlas. Minumlah.”

Dio mengambilnya dan mengangguk sebagai tanda ucapan terima kasih kepada wanita itu.

“Bolehkah aku bertanya?” Lanjut perempuan itu. Sementara Dio hanya mengangguk.

“Apa kamu tidak lelah berusaha membuat semua orang tertawa, sementara dirimu adalah bayangan dari luka?”

Dio yang mendengar pertanyaan Loli langsung berlari. Namun Loli tak tinggal diam, ia pun ikut berlari untuk mengejar.

“Tunggu, aku bukan bermaksud untuk mencampuri apa yang kau lakukan. Aku hanya ingin kau menjadi dirimu sendiri. Ini bukan dirimu yang sesungguhnya. Kau harus melepas senyum di balik topeng yang sudah kau tutupi bertahun-tahun.”

“Kau harus bangkit dari keterpurukan ini, kau juga harus melihat ke belakangan bahwa masih banyak orang yang jatuh berkali-kali. Tapi mereka mampu untuk bangun setelah itu. Dan kau pun harus begitu. Ayo bangun dari ilusimu. Dan hiduplah di dunia nyata sesungguhnya.”

Dio tidak pernah mendengarkan siapa pun, ia mencoba lepaskan pegangan Loli dan kabur.

“Kau akan melihat kenyataan yang sesungguhnya setelah 3 detik kau berlari,” seru Loli dari kejauhan.

Seperti bunga lalang yang terbang, begitu juga kecepatan Dio berlari. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Kembali ia menyaksikan peristiwa tiga detik yang dialaminya. Namun kali ini dengan versi yang lebih lama. Ia tak hanya kehilangan jiwa, tapi jasadnya juga pergi bersama dengan rintihan wirid-wirid. Tidak seperti dirinya yang masih berdiri hingga saat ini, meskipun ada beberapa persen yang hilang dari dirinya. Dio termenung cukup lama.

“Ada apa ini?” tanya batinnya.

Bayangan kejadian itu menghilang, dan terus berlanjut ketika ia melangkahkan selama tiga detik lagi dan begitu seterusnya.

“Ia mulai kebingungan”

Terlintas di pikiran Dio, ia mulai membandingkan apa yang terjadi dengan dirinya dan orang tersebut. Beruntung dirinya masih berdiri dengan kakinya sendiri. Selamat dari maut yang sudah ditarik oleh Malaikat Ijrail waktu itu. Dio pun menoleh ke belakangan. Tidak ada Loli dan seorang pun di sana. Hanya ada dia seorang diri. Akhirnya, Dio membuka topeng yang selama ini dipakainya, dan berjalan dengan wajah tersenyum lebar.

Walaupun ketika ia melangkahkan kaki keluar pintu dengan wajah sebagai Dio, dia ingin jiwanya tetap sebagai Tio yang sifat Dio yang sesungguhnya. Menghapus ilusi malam yang selama ini menggerogoti pikirannya. Dan menjalani kehidupan nyata seperti yang dikatakan oleh Loli.

Selesai

Penyunting: Idan Sahid

Sekilas Penulis

Maryatul Kuptiah, lahir di Riau pada tanggal 13 Desember 2004. Sekarang sedang menempuh pendidikan jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Hobi menulis puisi, artikel, dan cerpen.

Instagram: @xo.iaa_