Oleh: Putra Abi
AWAL Juli yang cerah. Seekor kucing hitam duduk di atap sebuah rumah di salah satu perumahan tengah kota yang asri. Ia terlihat memerhatikan satu rumah bercat putih di hadapannya dengan cemas. Tampaknya ia sedikit tertarik dengan rumah itu. Oh, bukan. Dengan penghuni rumah itu.
Sudah hampir satu jam, kucing hitam itu memandangi kaca jendela rumah yang berukuran besar-besar. Sebenarnya, pagi ini adalah jadwalnya untuk meminta jatah makanan kepada wanita muda si pemilik rumah. Tapi, beberapa saat lalu terjadi keributan di rumah itu. Ia mendengar barang-barang terbanting atau malah sengaja dibanting. Selain itu, suara-suara makian juga terdengar cukup keras.
Si kucing hitam tak tahu apa yang sedang diributkan. Ia juga tak mengerti bahasa manusia. Ia hanya tahu satu hal; perang besar baru saja pecah di rumah itu.
“Rupanya kamu di sini,” seru seekor kucing oranye mengagetkan, spontan menegakkan bulu si hitam yang hanya tertawa kecil.
“Tidak usah panik begitu. Aku ke sini bukan untuk cari masalah denganmu,” kata si oranye lagi sambil berjalan mendekat.
Dikata seperti itu, si Hitam mulai melemaskan bulunya. Sementara si Oranye duduk di sebelahnya. “Ke mana saja kamu seminggu ini? Aku tak menemukanmu di mana pun. Padahal ada banyak hal menarik yang terjadi beberapa hari ini,” ceriwis si Oranye sambil mencari posisi duduk yang nyaman. “Andai kamu tahu, manusia penghuni rumah 12A di depan, tiga hari yang lalu mereka mengadakan syukuran karena baru membeli mobil baru. Untunglah mereka membuang banyak sekali sisa makanan. Aku makan besar hari itu. Sayang sekali kamu tak muncul. Padahal aku ingin berbagi makanan denganmu.”
“Oh ya. Kemarin, rumah 20D di belakang juga mengadakan syukuran. Bukan karena mobil baru. Sepertinya anak mereka baru lahir. Em.. sayangnya, manusia di rumah itu rakus-rakus. Tak banyak makanan yang tersisa di tong sampah. Aku sampai kerepotan mengorek-ngorek sisa makanan. Untunglah, malamnya aku berhasil mengambil makanan si Persia putih di rumah 13C. Aku masih bisa tidur nyenyak kemarin.”
Si Oranye mengamati si Hitam dengan tekun. “Kalau kamu sendiri, apa yang kamu lakukan seminggu ini, Hitam? Kulihat, badanmu tak seperti kucing kelaparan. Kamu makan di mana saja?”
Sementara yang ditanya masih diam. Seolah-olah enggan merespon.
“Hei, Hitam! Aku ini sedang berbicara denganmu, loh.”
Si Hitam mendelik. Ia menunjukkan gestur tidak nyaman. “Diamlah. Aku sedang malas berbicara denganmu.”
“Jangan seperti itu. Jangan sampai para manusia itu terus menganggap kita seolah-olah musuh bebuyutan atau dua entitas yang harus selalu ditempatkan terpisah. Padahal, kita itu hanya kurang akur saja,” katanya sambil menghela napas. “Kita memang tidak cocok dalam beberapa hal. Tapi, bukan berarti kita selalu bertengkar setiap kali bertemu. Ya, kan?”
Alih-alih membalas, si Hitam seketika menegakkan kepala. Kedua telinganya ikut tegak pula. Sementara matanya makin fokus memandang ke depan.
Si Oranye pun penasaran.
BRAAAK!
Seorang pria muda keluar dari rumah itu dengan membanting pintu keras-keras. Raut mukanya penuh amarah. Dengan segera, pria itu masuk ke sedan hitam. Lalu, pergi dalam sekejap.
Dari kejauhan, mereka melihat seorang wanita muda tengah menangis di sofa ruang tengah. Walaupun rambut panjangnya menutupi wajah, tapi mereka tahu kalau ia tengah menangis. Tubuhnya bergetar hebat.
Tanpa banyak kata, si Hitam meninggalkan si Oranye. Bergerak buru-buru. Melompat ke tembok pembatas perumahan. Lalu, setengah berlari menuju rumah tersebut.
Dari kejauhan, si Oranye memandang heran si Hitam yang sesampainya di halaman rumah, langsung duduk di dekat jendela. Tak melakukan apa-apa kecuali memandangi wanita muda yang masih menangis.
Ia tak mengerti kenapa si Hitam peduli dengan manusia itu. Seingatnya, tak ada manusia yang benar-benar peduli dengan kucing liar. Bagi mereka, kucing liar sudah disamakan artinya dengan hama, perusak lingkungan, atau makhluk menjijikan. Jangankan dekat-dekat, bahkan melintas saja terkadang hanya pengusiran yang didapat.
“Kamu tak seharusnya peduli dengan manusia itu,” gumamnya. “Asal kamu tahu, Hitam. Manusia adalah makhluk paling sombong yang mengaku derajatnya lebih tinggi dari makhluk Tuhan lainnya,” tutup si Oranye sambil bersiap membalik badan.
Si Oranye pun pergi dalam senyap meninggalkan si Hitam dan wanita kesayangannya.
***
KEESOKAN harinya. Ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun, si Oranye datang lagi dengan asumsi bahwa si Hitam sedang berada di tempat yang sama seperti kemarin. “Ah. Sudah kuduga kamu ada di sini, Hitam,” seru si Oranye sambil berjalan mendekat.
Sementara si Hitam tetap tenang dalam duduknya. Ia tak terlalu terganggu dengan kedatangan si Oranye. Pandangannya telah terkunci ke titik yang sama seperti kemarin. Si Oranye menghela napas panjang. “Rupanya, kamu masih saja penasaran dengan wanita muda itu.”
Tidak seperti kemarin, kali ini si Hitam langsung bereaksi. Ia menoleh, lalu berkata pelan saat si Oranye baru duduk di sampingnya. “Aku kasihan dengannya.”
Si Oranye sempat terkejut dengan reaksi cepat si Hitam. Ia pikir si Hitam tidak akan merespon perkataannya.
“Coba kamu lihat,” kata si Hitam meminta si Oranye mengamati wanita muda yang tampak dari jendela rumahnya. “Dia menangis lagi hari ini. Dia bertengkar lagi dengan pasangannya, si pria muda brengsek itu.”
“Kenapa kamu sangat tertarik dengan wanita itu?” tanya si Oranye penasaran, “apa yang wanita itu perbuat untukmu?”
Si Hitam menghela napas panjang sebelum menjawab. “Selama seminggu ini, wanita itu selalu memberiku makan. Setiap pagi. Selama seminggu ini pula aku selalu menyaksikan dia bertengkar dengan pasangannya. Dan dia selalu menangis.”
Si Oranye menaikkan kedua alisnya. “Lalu?”
“Aku kasihan dengan wanita itu. Maksudku, kalau hanya membuatnya menangis setiap hari, kenapa dia dan pria brengsek itu memutuskan hidup bersama? Kenapa tidak mencari pasangan lain yang bisa membuatnya bahagia daripada menangis setiap hari? Dunia ini luas, kan?”
“Biarkan saja dia begitu. Tidak perlu kamu pusing memikirkan wanita itu. Kamu hanya perlu memanfaatkan wanita itu untuk kebutuhan perutmu saja.”
Sesaat si Hitam mendelik kepada si Oranye, ia jelas tidak suka dengan perkataan si Oranye barusan. “Aku tidak sepertimu. Aku masih punya empati terhadap manusia yang memperlakukanku dengan baik.”
“Empati itu hanya untuk manusia. Sedangkan kita… apalah kita ini. Hanya kucing liar yang tak bertuan.”
Si Hitam kembali mendelik, lebih tajam.
“Baiklah. Baiklah,” si Oranye mengulas tawa kecil, “aku tak akan memaksakan pendapatku. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu satu hal. Kamu tak akan paham dengan jalan pikiran mereka. Asal kamu tahu. Manusia adalah makhluk yang tak pernah bisa puas. Ego di kepala mereka terlalu sulit untuk dimengerti. Dan untuk urusan cinta, mereka bisa menjadi sangat problematik dan ceroboh,” terangnya.
Si Hitam terdiam. Tak ingin membantah.
“Bagi kita, cinta hanyalah tentang sesuatu yang membahagiakan. Jika tidak mendatangkan kebahagiaan, maka bukan cinta namanya. Sesederhana itu. Tapi bagi manusia, lain soal. Mereka mengartikan kata cinta dengan banyak sekali definisi rumit. Itulah kenapa manusia akan menolerir ketika mereka menangis karena cinta, bersedih karena cinta, atau sakit karena cinta seolah-olah semua kepedihan itu bagian dari cinta itu sendiri. Anehnya, mereka justru menikmati itu,” kata si Oranye lagi sambil menghela napas sebelum melanjutkan. “Aku tak akan bilang wanita kesayanganmu salah memilih pasangan atau tidak. Hanya saja, dalam dunia manusia, cinta sangatlah abstrak. Mereka bisa jatuh cinta hanya dari hal-hal kecil. Mereka juga bisa saling membenci dari hal-hal sederhana. Banyak dari mereka yang malah terjebak. Tak bisa ke mana-mana. Pada akhirnya, mereka hanya bisa bertahan dalam hubungan cinta yang rumit meski kesedihan datang bertubi-tubi.”
“Ah. Kamu terlalu sok tahu tentang kehidupan manusia,” si Hitam coba menyangkal.
“Aku tahu banyak hal. Aku sudah kenyang dengan pemikiran mereka yang rumit,” jawab si Oranye, “kamu lihat sendiri. Wanita kesayanganmu masih sangat muda, begitu pun pasangannya. Tampaknya mereka tidak siap dengan perubahan.”
Si Hitam kembali diam.
“Kamu tahu, dengan cara kerja otak manusia yang kompleks, pandangan mereka tentang cinta bisa saja berubah dalam sekejap. Sedangkan bagi kita, cinta ya cinta. Benci ya benci. Kita tidak akan semudah itu mengubah persepsi.”
“Kamu salah,” protes si Hitam, “manusia sangat menghargai sesuatu yang dicintainya.”
“Lalu, kenapa wanita kesayanganmu selalu bertengkar dengan pasangannya?” tanya si Oranye berniat menutup pembicaraan.
Ketika si Hitam tak lekas menjawab, ia bangkit lalu membalik badan. Bersiap pergi dari sana. Tapi sebelum melangkah, ia berkata sekali lagi. “Ah. Begini saja. Kamu ikut aku sekarang.”
“Ke mana?”
“Sudahlah. Ikut saja. Aku akan menunjukkan padamu bahwa selain wanita kesayanganmu itu ternyata ada manusia lain yang terjebak oleh hubungan yang rumit.”
Si Hitam tak mengatakan apa-apa lagi ketika dibawa oleh si Oranye ke tempat yang ia sendiri tak tahu. Mereka terus berjalan menuju area depan perumahan. Sesekali si Oranye menengok ke belakang. Memastikan si Hitam tetap mengikutinya.
***
“Nah. Ini dia,” cetus si Oranye ketika mereka sampai di sebuah rumah area depan perumahan bertuliskan ‘Rumah 4A’. Si Hitam mencermati kondisi rumah yang ditunjuk si Oranye itu. Hampir terlihat sama seperti rumah-rumah lainnya. Hanya saja, jenis mobil yang ada di garasi, tanaman-tanaman hias, dan pagar rumahnya yang terlihat berbeda.
“Kita tunggu di sana saja,” cetus Oranye lagi sambil menunjuk pohon ketapang di seberang jalan. Mereka pun duduk di bawahnya.
Lima menit kemudian, sepasang manusia keluar dari rumah itu. Si pria mengenakan pakaian rapi, sementara si wanita mengenakan pakaian santai. Setelah mencium kening si wanita, pria berumur 40an tahun itu membuka gerbang. Masuk mobil dengan langkah santai.
Mobil pun melaju keluar dari rumah, kemudian menghilang di balik tembok pembatas perumahan. Sementara si wanita, ia menutup gerbang dan kembali ke dalam rumah. Adegan pertama berakhir.
Si Hitam mengedikkan kepala. “Kamu suruh aku lihat apa? Tidak ada yang aneh dengan kejadian barusan.”
Si Oranye tersenyum. “Memang. Tapi, lihat saja beberapa menit lagi.”
Si Hitam tak mengerti dengan ucapan si Oranye.
Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang pria berumur 20an tahun menghentikan sepeda motornya di depan rumah itu. Tak berapa lama, si wanita keluar rumah lagi dengan pakaian yang jauh lebih santai dibanding sebelumnya, ah, malah terkesan lebih terbuka.
Si wanita membukakan pintu gerbang. Menyuruh si pria masuk.
Lalu, dari sela-sela tirai yang sedikit terbuka di lantai dua rumah, si Hitam melihat pemandangan yang mengejutkan. Si wanita dan pria itu tengah berpelukan. Berciuman. Lalu, menjatuhkan badan bersama-sama. Setelahnya, bayangan mereka tak terlihat lagi. Adegan kedua berakhir.
Si Hitam seketika takjub dengan apa yang dilihatnya.
“Bukankah hubungan manusia di rumah itu sama rumitnya dengan wanita kesayanganmu?” tanya Oranye tak menuntut jawaban. “Padahal, mereka tampak baik-baik saja. Maksudku, mereka seperti pasangan yang sempurna, bukan? Tapi, siapa sangka. Si wanita malah bersama pria lain. Bukankah itu sama saja dengan pengkhianatan?”
Si Hitam tak ada niatan berkomentar.
“Aku sudah mengamatinya selama sebulan terakhir. Dua atau tiga kali seminggu, si wanita akan membawa teman prianya itu ke rumah,” kata si Oranye lagi. “Anehnya, tidak pernah kudengar pertengkaran perkara hal itu. Tidak ada konflik sama sekali.”
“Sama sekali?”
“Sama sekali,” jawab si Oranye sambil bangkit dari duduknya. “Bahkan, kesempurnaan pasangan pun tak menjamin manusia itu akan merasa bahagia. Sekali lagi, manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Makanya, aku akan sangat heran jika ada manusia yang bahagia seratus persen hidup bersama pasangannya.”
“Lalu bagaimana dengan mereka yang hidup bersama pasangannya sampai tua bahkan sampai mati?”
“Itulah kenapa ada kata komitmen dalam dunia manusia. Komitmen adalah fase terdalam dari perasaan cinta manusia yang dangkal tapi rumit. Ketika sepasang manusia sudah berkomitmen, maka di situ akan muncul penerimaan.”
“Jadi, maksudmu…”
“Ya,” potong si Oranye, “wanita kesayanganmu dan pasangannya belum benar-benar ingin berkomitmen. Mereka masih terjebak perasaan cinta yang abstrak. Jika kamu masih bertanya-tanya kenapa dia tidak sudahi saja hubungan yang seperti itu? Aku yakin bukannya dia tidak mau, hanya saja tidak bisa.”
Si Hitam kembali diam.
“Ayo,” cetus si Oranye sambil memberikan kode kepada si Hitam untuk ikut bangkit pula. “Kita ke tempat berikutnya. Masih ada beberapa hal yang kamu perlu tahu tentang sisi lain manusia yang kamu kagumi itu.”
Mereka pun menjelajah jalanan perumahan lagi. Bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya. Begitu si Oranye memberikan kode, mereka berhenti di satu rumah. Mencermati kejadian di rumah itu lalu pindah lagi ke rumah lainnya.
Sambil memerhatikan penjelasan si Oranye yang mencerocos perkara hubungan rumit para manusia di perumahan itu. Si Hitam pun heran kenapa si Oranye bisa sebegitu pahamnya terhadap dinamika kehidupan manusia. Apa yang sudah dia lalui sebelumnya?
Lalu, tiba-tiba si Hitam teringat desas-desus yang mengatakan bahwa si Oranye ini pernah menjadi kucing rumahan yang dipelihara sebuah keluarga sejak kecil. Tapi, ketika berusia dua tahunan, si Oranye terkena penyakit yang membuat tuannya jijik. Si Oranye pun dibuang oleh mereka.
Pada akhirnya ia terdampar di perumahan ini setelah berjuang mencari jalan pulang tapi kehilangan jejak. Karena itulah si Oranye menjadi sangat skeptis, oh bukan, sudah muak terhadap sikap manusia.






















Leave a Reply