Hikayat Santri di Malam Hari
(Yanuar Abdillah Setiadi)
Seorang santri
diam di depan musala
menahan lapar dalam
perut yang menggema
di sela-sela zikirnya.
Malam memeluknya
dari belakang
dengan khusyuk
untuk menaunginya
dari dingin yang
menusuk.
Tasbih di lengannya
memegang erat
tangannya yang
kasar tanda bahwa
seharian ini
telah khidmat di
dapur sang kyai.
Desir angin
berembus di dadanya
mengabarkan rasa
rindu ibunya di kampung
halaman yang selalu
mendoakannya dalam
khidmat malam.
Jangkrik menemani
kesepiannya
agar ia paham
bahwa tak sepenuhnya
yang tak berakal
itu hanya fatamorgana
semata.
seorang santri di depan
musala sedang melatih
hatinya agar bisa
lebih tegap dari
tiang musala.
Purbalingga, 2025
Hikayat Penjual Batagor
(Yanuar Abdillah Setiadi)
Di malam
yang diberkahi hujan
ia merondai kampung
layaknya malaikat
yang menjenguk
hamba di seretiga malam.
Kecipak kakinya
melangkah di gang kecil
namun tabuh kakinya
terdengar hingga
penduduk langit terbangun.
Seorang ayah yang
berjualan bakso tahu goreng
agar dapur rumahnya
tetap bisa mengepul.
Tangannya amat
teguh mendorong
gerobak yang terbuat
kayu cokelat
secokelat warna
tanah yang ia pijak
lantaran digilas hujan.
Jalan kampung
yang tak seberapa
terasa begitu
panjang serupa jalan
hidupnya yang
tak tau di mana
ujung dari sebuah perjuangan.
Purbalingga, 2026
Hikayat Tukang Ojek
(Yanuar Abdillah Setiadi)
Roda ban
terus berputar
layaknya waktu
yang terus menggilas
masa kini
dan masa lalu dengan sesal.
Klakson
sesekali berbunyi
tanda bahwa setiap
yang menghalangi harus
disingkirkan
dengan sedikit
keterkejutan.
Suara notifikasi
di aplikasi
adalah kabar gembira
layaknya wahyu
yang diturunkan
pada Nabi
sebagai pengharapan
akan kehidupan.
Senyumnya mekar
di ladang malam
yang sudah gelap
segelap noda
di jaketnya
yang dipakai
sejak subuh hari.
Ia bergegas
menjemput
penumpang dengan
kecepatan yang
tidak mungkin
ia lakukan
saat mengejar
waktu solat
berjamaah.
Purbalingga, 2026
























Leave a Reply