Oleh: Faradisa Ramadani Putri
“Putri,” begitu mereka mengenalku. Aku, anak kedua yang tumbuh dalam limpahan kasih sayang seorang ayah. Lucunya, aku gampang sekali menangis. Bahkan, saat sedang bertugas atau ketika memarahi seseorang. Hubunganku dan Ayah memang tak selalu harmonis, ada saja selisih paham. Namun, di balik itu, hidupku dipenuhi limpahan kasihnya.
Ayah pernah berujar, “Di luar sana, Putri harus kuat dan mandiri. Tapi, saat kembali ke rumah, jangan ragu untuk bermanja pada Ayah.”
Sejak bangku SD, Ayah tak pernah absen menemaniku. Di hari pertama sekolah, rasa takut kehilangan begitu menghantuiku. Aku merengek setiap kali Ayah hendak beranjak pulang. Dengan sabar, Ayah selalu menungguku. Meski begitu, aku tahu, jauh di lubuk hatinya, Ayah merasa jengkel.
Saat aku duduk di kelas 6, Ayah mendaftarkanku ke bimbingan belajar. Aku menolak, namun Ayah bersikeras. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah. Sejujurnya, aku suka belajar. Namun, bimbingan belajar sepulang sekolah terasa begitu membebani. Syukurnya, ada kalanya, Ayah mengajakku berkeliling kota Bandung setelah kegiatan bimbingan belajar. Momen itu selalu menjadi oase di tengah penatnya hari. Tak jarang, aku tertidur dalam dekap hangatnya. Jika sudah begitu, Ayah akan membangunkanku dan memintaku duduk di kursi depan.
Tahukah kalian apa kelemahanku? Menunggu jemputan Ayah yang tak kunjung tiba. Kelelahan membuatku mudah terpancing emosi. Air mata pun tak terhindarkan. Suatu hari, bukan Ayah yang menjemputku, melainkan Om. Dengan bingung, kutanyakan alasannya. Om menjawab dengan nada lirih, “Ayahmu mengalami kecelakaan.”
Seketika, duniaku runtuh. Air mata membanjiri pipiku. Sesampainya di rumah, kulihat Ayah terbaring lemah dengan luka di sekujur tubuhnya. Meski begitu, aku tetap bersyukur karena Ayah masih diberi kesempatan untuk bernapas. Ketakutan kehilangan Ayah selalu menghantuiku. Hanya dia yang selalu ada untukku, dalam setiap waktu dan keadaan. Ayah juga selalu menjadi pendengar setia setiap cerita yang kubagikan.
Waktu terus bergulir, hingga akhirnya aku memasuki gerbang SMP. Tanpa sepengetahuan diriku, Ayah telah mendaftarkanku di SMP Negeri 15 Kota Bandung. Kabar itu baru kusadari setelah pengumuman penerimaan siswa baru. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku tak ingin bersekolah di sana. Namun, lagi-lagi, aku tak punya pilihan. Awalnya, aku merasa asing dan takut dengan lingkungan baru di SMP. Namun, ternyata, mereka semua baik dan ramah. Aku bahkan menemukan sahabat-sahabat baru, baik laki-laki maupun perempuan, yang begitu baik dan menawan.
Di kelas 7, kesibukan dengan tugas dan organisasi begitu menyita waktuku. Namun, aku selalu berusaha menuruti nasihat Ayah. Ayah selalu menyemangatiku, “Nak, percayalah, semua lelahmu ini akan terbayar lunas di kemudian hari.”
Di awal semester 2, semangatku membara untuk segera naik ke kelas 8. Aku ingin menikmati waktu luang dan menjauh dari segala tugas. Namun, takdir berkata lain. Di semester 2 kelas 7, sebuah tragedi menghampiriku. Ayahku pergi untuk selama-lamanya. Kehilangan ini membuatku rapuh dan tak berdaya. Hanya dia yang begitu dekat denganku, tempatku mencurahkan segala isi hati. Aku merasa asing dengan Ibu yang cenderung keras dan galak.
Kenangan tentang Ayah begitu membekas dalam benakku. Mulai dari saat aku dikunci Ibu di kamar dan Ayah datang menyelamatkanku, hingga saat aku terperangkap di kamar mandi dan Ayah dengan sigap membantuku keluar. Ayah begitu baik padaku. Kehilangan ini begitu menyesakkan dada.
Aku dan Ayah sama-sama memiliki sifat gengsi yang tinggi. Jangankan mengucapkan kata sayang, berpelukan pun jarang kami lakukan. Kadang, aku merasa iri dengan keluarga lain yang begitu hangat dan ekspresif. Namun, begitulah adanya keluargaku.
Di hari terakhir Ayah di dunia, untuk pertama dan terakhir kalinya, aku memberanikan diri menciumnya. Air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipiku. Tuhan telah mengambil Ayahku. Andai waktu bisa diputar kembali, aku ingin mengungkapkan betapa besar rasa sayangku pada Ayah. Aku ingin berterima kasih atas segala pengorbanan dan kesabaran yang telah Ayah berikan. Tanpa Ayah, aku tak tahu bagaimana jadinya hidupku.
Terima kasih, Ayah.
***
SATU tahun berlalu, hidupku terasa begitu berat tanpa kehadiran Ayah. Aku kehilangan tempat untuk berbagi cerita dan keluh kesah. Sering kali, aku merindukan saat-saat menunggu jemputan Ayah. Lebih baik menunggu lama daripada harus berdesakan di angkutan umum. Kesedihan dan kerinduan terus menghantuiku. Aku ingin marah pada Tuhan, mengapa Ayah yang begitu kusayangi harus pergi lebih dulu. Namun, kemudian kusadari, mungkin Tuhan ingin aku belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri dan tegar.
Ayah, Ibu, dan adik, tahukah kalian betapa aku merindukan sosok Papa? Aku bingung, kepada siapa lagi aku harus mengadu saat lelah dan ingin berkeluh kesah? Tempatku bercerita hanyalah Ayah, namun kini ia telah tiada.
Saat duduk di kelas 9, beban tugas dan praktik semakin berat. Aku merasa hidupku berantakan. Kebingungan melandaku. Lalu, kutemukan diriku berjalan menuju makam Ayah. Di sana, air mata membasahi pusara. Aku mencurahkan segala isi hatiku. Setelah selesai, aku berdoa dan bergegas pulang karena takut dimarahi Ibu.
Terima kasih Ayah untuk segalanya. Aku berdoa semoga Ayah tenang dan bahagia di sana. Aku akan berusaha tegar dan memendam segala kesedihan ini. Ayah, aku ingin bercerita bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang jahat dan munafi k. Ternyata, manusia bisa sekejam itu. Namun, begitulah kenyataannya. Manusia diciptakan dengan segala perbedaan.
Nasihat Ayah selalu terngiang di telingaku. “Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai terpengaruh oleh orang-orang yang berniat buruk. Jika kamu merasa lelah, menangislah. Tapi, jangan pernah menyerah.” Ayah juga sering berpesan, “Mengagumi sesuatu itu boleh saja, Nak. Tapi, jangan berlebihan. Karena, pada akhirnya, kamu sendiri yang akan terluka. Jika ada orang yang berbuat jahat padamu, jangan membencinya. Lebih baik diam atau menjauh darinya.”




















Leave a Reply