Membaca buku adalah salah satu cara untuk menambah wawasan dan memperluas perspektif seseorang. Alih-alih membaca dapat meningkatkan daya kritis, bisa memengaruhi orang lain dengan ilmu yang didapatkan dari bacaannya, mempunyai keahlian tertentu, atau manfaat lainnya yang bejibun, manfaat membaca mesti disederhanakan sedemikian mungkin terlebih dahulu, yaitu sebagai suatu kebutuhan. Seperti halnya kebutuhan akan makan dan minum, kebutuhan membeli pakaian dan properti, hiburan, dan kebutuhan mendasar lainnya.
Namun, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi digital, aktivitas membaca buku rasa-rasanya menjadi kegiatan yang langka; semakin menumui jalan yang terjal lagi berduri, berbatu, berlubang, dan kadang ditinggalkan karena dianggap berbahaya. Keengganan untuk membaca buku juga terjadi di kalangan mahasiswa. Ya, tulisan ini akan lebih spesifik membahas bagaimana minat mahasiswa sekarang sangat berkurang untuk membaca buku. Meski tentu, opini ini sangat membuka keran selebar-lebarnya untuk dibantah.
Penulis mengambil beberapa pengalamannya sendiri, perpustakaan kampus sepi pengunjung, buku-buku lebih banyak menganggur, praktis kebiasaan membaca semakin terpinggirkan. Terlebih, tidak jarang di sekitar kampus, atau bahkan di kampus itu sendiri yang cukup banyak menyelenggarakan festival literasi─atau semacamnya─selalu sepi dari pengunjung dan minat mahasiswanya. Lantas apa yang menjadi penyebab mahasiswa semakin enggan membaca buku?
Gimana Mau Baca Buku, Emang Dasarnya Saja Ngga Suka Baca Buku
Perubahan pola konsumsi informasi mahasiswa yang hidup di era digital saat ini semakin meninabobokan kaum terpelajar. Mereka lebih memilih jalan pintas untuk mendapatkan informasi melalui media sosial, video singkat, atau paling bagus melalui tulisan pendek─sangat pendek─di internet dibandingkan duduk bermenit-menit menekuni buku. Media sosisal seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menawarkan informasi dalam bentuk yang lebih menarik namun menyesatkan; cepat dicerna tapi terkadang membodohkan, mudah diakses tapi terkadang memalaskan. Akibatnya, ketika membaca buku yang membutuhkan konsentrasi dan waktu lebih lama menjadi terasa membosankan.
Sila buktikan sendiri, hal ini sangat terlihat di kampus-kampus. Di mana mahasiswa lebih sering terlihat bermain ponsel di kantin atau taman kampus daripada menenteng buku untuk dibaca. Atau sekadar meminjam buku di perpus kampusnya. Coba ditanya, berapa kali mereka dalam setahun pergi ke perpustakaan kampusnya? Ya, yang penulis maksud adalah lelaku membaca mahasiswa di kampus. Sangat sangat sangat sangat sangat berharap sekali hal ini hanya dialami di kampus penulis semata.
Baca Buku Tidak Dijadikan Kebutuhan Primer
“Seharusnya baca buku jadi kebutuhan dasar seseorang.” Kata-kata tersebut terdengar tendensius dan hanya bisa diucapkan oleh orang yang suka baca buku, pegiat literasi, petugas perpus, dan mahasiswa jurusan bahasa atau semacamnya semata. Sebab, seseorang yang berusaha mengkampanyekan sesuatu cenderung dilakukan oleh orang yang memang bergelut di bidang tersebut. Jarang rasa-rasanya memiliki kesadaran untuk memiliki kepentingan yang sama di samping bidang yang digeluti orang tersebut berbeda. Hobiku olahraga, untuk apa membaca buku. Aktivitasku jualan, untuk apa baca buku. Kesukaanku fashion, untuk apa baca buku, dan lain-lain. Setiap orang memiliki kepentingannya masing-masing.
Jika seseorang mengatakan, “Membaca adalah kebutuhan primer,” maka seseorang yang berada di bidang lainnya juga memiliki kepentingan yang berbeda. Misalnya mahasiswa jurusan pendidikan matematika juga akan mengatakan, “Matematika itu penting, harusnya setiap orang belajar matematika” dan lain sebagainya. Keruwetan cara berpikir seperti inilah yang semakin memperparah kenapa membaca buku tidak menjadi kebutuhan setiap mahasiswa, apa pun jurusan dan kepentingannya. Berbeda di negara-negara maju seperti Finlandia, Norwergia, Jepang, dan lain sebagainya, apa pun latar belakang pendidikan, kesukaan, hobi, kepentingannya, membaca telah menjadi kebutuhan primer dan menjadi cara yang fundamental untuk mencapai kesuksesan dalam berbagai hal.
Sistem Pendidikan yang Lebih Berorientasi pada Nilai
Minat baca belum menjadi bagian dan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika masuk ke dunia perkuliahan, seseorang tidak memiliki kebiasaan atau ketertarikan untuk membaca buku secara rutin. Di banyak perguruan tinggi, sistem pendidikan masih cenderung berorientasi pada hasil akademik (nilai) daripada proses pembelajaran yang mendalam.
Banyak mahasiswa membaca buku hanya saat diperlukan, misalnya ketika akan menghadapi ujian atau membuat tugas. Itu pun cenderung memilih cara instan, seperti membaca rangkuman atau mencari ringkasan di internet, daripada membaca buku secara menyeluruh. Akibatnya, pemahaman mereka terhadap suatu topik menjadi dangkal dan tidak berkembang secara optimal.
Hal yang paling kentara dari bukti bahwa mahasiswa akan membaca hanya ketika dibutuhkan saja adalah ketika aktivitas presentasi dan diskusi di dalam kelas berlangsung. Perhatikan, seberapa banyak mahasiswa yang mengungkapkan pendapat atau teori dengan menyertakan referensi dari hasil bacaannya? Jika pun ada, hanya satu-dua. Hal itu tentu patut diapresiasi. Sisanya? Perlu terus disadarkan.
Pada suatu presentasi atau diskusi, jarang terjadi suatu perdebatan, pengungkapan opini, dan teori yang melebar ke bacaan di luar dari referensi materi presentasinya. Misalnya, ketika presentasi Mata Kuliah Sejarah Bahasa Indonesia di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, apakah sering terjadi pengungkapan pembahasan dengan membawa hasil bacaan referensi dari luar bacaan wajib buku materi pelajaran mata kuliah tersebut?Seringnya, bahasan di saat presentasi berlangsung hanya pengungkapan-pengungkapan yang bersifat pembacaan dekat (close reading) dan cenderung tidak menghidupkan perdebatan-perdebatan secara pembacaan jauh (distant reading). Kedua model pembacaan yang meminjam metode membaca yang dilakukan dalam sastra. Meskipun pembuktian ini tidak sepenuhnya membenarkan mahasiswa hanya membaca buku ketika hendak presentasi saja, hal itu menjadi satu indikasi bahwa apabila memiliki banyak modal membaca seharusnya diskusi dan presentasi di dalam kelas mesti menjadi lebih menarik.
Lingkungan yang Tidak Mendukung untuk Suka Baca
Mahasiswa tidak hanya disibukkan dengan kuliah dan tugas, tetapi juga dengan berbagai aktivitas lain seperti organisasi, pekerjaan sampingan, atau kegiatan sosial. Meskipun hal itu sebenarnya adalah alibi, seharusnya apa pun kesibukannya tidaklah menjadikan alasan untuk tidak suka membaca. Bisa kok satu organisasi suka baca buku, bisa kok satu tempat pekerjaan suka baca buku, bisa kok satu tongkrongan suka baca buku. Ya, kesukaan membaca buku haruslah menjadi virus ke dalam setiap circle mahasiswa.
Membaca benar-benar harus menjadi bagian dari gaya hidup yang bisa disesuaikan dengan rutinitas harian, hoby, pekerjaan, dan kepentingan apa pun. Mahasiswa yang suka fotografi tidak akan bermasalah jika harus suka baca buku, justru kesukaannya akan semakin tajam dengan kebiasaan membacanya. Begitu juga seorang mahasiswa yang memiliki kesibukan jualan, konten kreator, seorang atlet kampus, dan apa lagi aktivis. Membaca justru akan menjadi pelengkap, pendukung, pengembang, dan pencerah terhadap kesukaan utamanya itu. Membaca tidak mesti menjadi kesukaan yang utama, cukup menjadi kebutuhan.
Mahasiswa yang tidak akrab dengan buku sungguh akan menjadi satu bencana dalam suatu peradaban bangsa. Mahasiswa yang jarang membaca cenderung memiliki daya analisis suatu permasalahan yang dangkal. Gampang menyerah dalam menghadapi suatu konflik. Sulit berpikir luas untuk mencari sebuah solusi, dan lain sebagainya. Mahasiswa yang jarang membaca sering kali memiliki keterbatasan dalam berpikir kreatif dan inovatif. Semua kerugian itu seharusnya menjadi kesadaran dalam menyongsong dunia kerja para mahasiswa yang menuntut keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi yang baik.
Solusi untuk semua itu bisa diselesaikan dengan menumbuhkan kebiasaan membaca. Mulai sekarang, mahasiswa harus memiliki kebutuhan untuk membaca buku. Bukan untuk menjadi lebih pintar dan kemudian merendahkan yang berada di bawahnya. Bukan untuk menjadi arogan dengan bacaannya yang banyak. Bukan untuk menjadi penindas dengan pengetahuannya yang luas. Akan tetapi semata-mata sebagai kunci dalam meraih kesuksesan dalam bidang apa pun. Apabila mahasiswa tidak suka membaca buku, maka hak untuk dikatakan sebagai mahasiswa apalagi kaum akademis saja tak punya.
Penulis: Idan Sahid

























Leave a Reply