Oleh: Muhammad Riski Syarifudin
Kenangan yang Kusetrika
Dalam peluhku, aku ingin memelukmu
Tapi bajumu sudah kusetrika kemarin malam
Hilang sudah aroma peluh yang dulu membuatku rindu
Dalam anganku, kamu masih berdiri di tepi pintu sambil berkata
“jangan lupa makan”
Lalu pergi bersama suara yang tak pernah kembali
Ragaku mulai ragu
Apakah kenangan bisa dilipat, seperti kemeja di dalam lemari?
Atau dibiarkan tetap kusut, agar tetap terasa nyata?
Aku berpura-pura melupakan
Tapi kenangan ini, seperti setrika yang terlalu panas
Membakar sedikit, lalu meninggalkan bekas luka di kain hatiku
Manusia Celana Dalam
Ia rela terkantup-kantup
Tergelatak pada pojok sunyi
Digantung dengan rasa jijik
Dibalasnya hinaan dengan pujian
Makian dengan gurauan
Hina dengan tawa
Meskipun hidupnya kelam
Namun tak pernah kehilangan kalem
Ia adalah manusia celana dalam
Lauk Luka
Luka adalah lauk yang kusantap tiap malam
Luka datang seolah menjadi barang paling laku
Luka sudah bermetamorfosa menjadi aku
Ingin & Angin
Angin semilir malam ini begitu menentramkan hati
Dibawanya segala gusar
Ingin kutitipkan rasa yang dulu menyala namun perlahan pudar
Tapi ia menolak
“simpan saja, barangkali berguna untuk hidupmu kelak”
Muhammad Riski Syarifudin
Manusia biasa yang ingin menjadi orang biasa pada umumnya
Instagram : riskisyarifudin_17





















Leave a Reply